kamu berhak bahagia..
"kamu berhak bahagiaa.."
kalimat yang sering kudengar dari Bu Silmy Risman, dan terus terngiang.
kisah ini, sangat personal buatku. tapi aku sadar ada banyaak teman yang juga tengah berjuang dengan perasaan dan kondisi semacam ini. semoga, tulisan ini menemanimu, dear. atau siapapun yang tidak mengalaminya, semoga ini menambah empati atau apapun yang membawa manfaat. aku merasa kesadaran-kesadaran ini penting dan bahkan emergency di tengah hiruk-pikuk hari ini.
beberapa waktu lalu, aku mengalami hari-hari yang tiba-tiba jatuh gelap. menangis berminggu-minggu sementara aku sulit mengenali apa sebabnya. sedih yang dalam bahkan putus asa. bangun tidur rasanya sedih kenapa harus bangun. tak ada energi untuk melakukan apapun, sementara kalau diam pikiran jadi makin tertekan. ada tugas, ada ujian, tapi konsentrasi menurun drastis. yang ada hanya membuka laptop, buka file, lalu kutinggalkan atau bahkan kumatikan lagi. ingin menenangkan diri dengan melakukan hal-hal yang biasanya kusukai pun ndak mempan. buku-buku hanya tergeletak berantakan. ndak ada energi untuk berinteraksi, bahkan jawab chat. keadaan fisik ikut menurun. saat kondisi membaik, berusaha untuk banyak berkegiatan, tapi berselang waktu justru makin jatuh berdebam. suasana hati makin anjlok. aku kenapa.. kapan ini berakhir..
yah, walakhir dokter bilang, aku depresi. benturan-benturan yang ternyata sudah kualami sejak beberapa tahun lalu. datang dan hilang. tapi saat datang lagi, terpaannya makin keras.
hari seperti itu, isi kepala hanya, kapaan cahaya datang, kapan fajar tiba, kapan aku keluar dari ini semua. seperti hidup tapi tak hidup, seperti mati tapi tak mati. sempit menghimpit. dan keadaan begini jadi rentan dengan berbagai hal. karena merasa kacau, merasa bersalah, merasa tak ada harapan. boro-boro memandang masa depan, bisa melalui hari ini aja syukuur. maka, kalau ada yang spontan mengatakan di depan mata, 'mungkin karena kurang iman'. maaf, hati-hati. karena itu bisa berakibat ia yang sedang jatuh itu betul-betul hilang harapan.
kenapa?
(hmm, aku ga ngomong teori ya. ini dari bagaimana rasanya).
karena dalam kondisi jatuh begitu, satu-satunya tali yang paling mungkin dijangkau adalah tali kepada Allah. menggantungkan, menyandarkannya kepada Allah. lalu ketika kata-kata orang mematahkan harapannya, dan ia ndak punya kekuatan untuk menolak, lepaslah genggamannya. jadi merasa, 'iya yah aku bukan hamba yang baik, Allah ngga suka sama aku, ngga ada lagi harapan'. mau ngapain lagi kalau ke Tuhan aja berhenti berharap, kan?
padahaal, Rasul pun pernah sedih sekali, hampir putus harapan, merasa kehilangan segalanya, sampai takut Allah pun meninggalkan beliau. lalu Allah jawab,
maa wadda'aka rabbuka wama qala
"Tuhanmu tidak membencimu ataupun meninggalkanmu"
setiap asap pasti ada apinya. depresi dan berbagai guncangan jiwa pun ada sebabnya. bukan tiba-tiba datang tanpa sebab. justru itu, mengisyaratkan bahwa memang sudah banyak yang dilalui. menumpuk. mengendap. sampai ingin meledak. ada hari-hari yang tak pernah dilihat orang. ada luka-luka yang jiwa simpan. sampai akhirnya kewalahan. semua itu, takdir Allah. seburuk apapun perlakuan orang kepada kita, sejahat apapun dunia pada kita, tetap. Allah masih sama sayangnya. menakdirkan ini semua karena inilah rangkaian puzzle paling baik milik kita. lika-liku, tapi indah kalau ridha dan sampe ke surga.
(lanjut ke post selanjutnya ya, ngga terlalu suka tulisanku puanjang. wkwk
di selanjutnya, ngomongin gimana jalanku menuju sembuh)
klik di sini lanjutannya
Komentar
Posting Komentar