"perbanyak shalawat, ya.."
menjelang Sya'ban ini, di tengah berbagai rasa tak mudah, aku ingin mengingatkan diri dan siapapun akan pesan ini.
kala itu aku tengah menghadapi kompulsif yang rasanya kelam sekali. ketakutan tak terkendali yang mendorong pada perbuatan berulang-berulang seperti tak ada ujung. melelahkan dan membuat merasa sangat buruk. lalu kakak mentor ini (semoga Allah menjaganya n keluarganya) memberi nasehat ini: "perbanyak shalawat ya, Salma.."
saat itu, nasehat ini terasa teduh sekali. seperti hatiku menemukan aha nya: ya, shalawat!
meski beliau seorang dokter, jawabannya bagiku sungguh di luar sangka. bukan hal-hal teknis atau mengutamakan cara. ketika aku sendiri sedang tenggelam kelelahan dengan usahaku terutama secara kognitif untuk reframing pola otomatis di pikiranku yg menjadi jalan perilaku kompulsif itu hadir. lelaah. lelah sekali karena kurasa aku sudah tahu akarnya, sudah tahu jalannya. tapi kenapa terus terjadi? kenapa sangat sulit berhenti? beliau.. mengingatkanku untuk tak mengandalkan diriku sendiri. dan sungguh, kompulsif itu terus berkurang menimpaku.
bersama beliau sesi demi sesi membekas maknanya. betapa bersyukur Allah hadirkan kesempatan itu. pembicaraan berat kehidupan justru berubah jadi haru karena diisi berbagi cinta akan Rasulullah. di berbagai bentuk kurang, ternyata kami-kita senantiasa punya Rasulullaah..
dan ingatan akan Rasulullaah, membuat hati tak lagi menggigil. ada Rasulullaah, yg selalu peduli. yg pedihku adalah pedihnya. yg tangisnya, doanya, pesannya, kekhawatirannya hingga akhir hayatnya adalah tentang kami umatnya. dalam berbagai sedih atau bahagia, sulit atau mudah, perbanyak shalawat ya..
sebelum menutup, aku ingin mengingat satu kisah hangat. saat itu seusai perang hunain, Rasulullah sebagai pemimpin membagikan harta rampasan perang pada umatnya–para sahabat. tapi harta-harta itu diprioritaskan untuk mereka yg baru memeluk islam terutama orang Quraisy, hingga orang-orang Anshar tak mendapat bagian. sehingga muncullah suara-suara tak rela di kalangan Anshar. dengarlah bagaimana jawaban beliau Rasulullaah yg indah:
“Wahai kaum Anshar! Apakah kalian tidak rela orang-orang itu pergi dengan membawa dunia sementara kalian pulang membawa serta nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke rumah-rumah kalian?”
Mereka menjawab, “Tentu kami rela, wahai Rasûlullâh!”
bukankah indah.. untuk hidup dengan punya Rasulullah di hati?
bukankah indah.. meski ujian demi ujian menimpa, tak memiliki apa yg banyak orang miliki, tapi punya Rasulullah di hati?
bukankah kehormatan besar.. untuk tidak selalu melimpah dunia tapi dilimpahi cinta pada Rasulullah-kita?
Ya Rasulullaah, rinduu..
Allahumma shalli ala nabiyina Muhammad
Komentar
Posting Komentar