Patah Hati Terbesar

menghela napas panjang untuk memulai ini. 

aku tak ingin melupakan fase terberat seumur hidupku, sekalipun berbagai pihak keberatan dengannya. aku tak ingin berjalan seolah-olah hidupku lurus terbebas dari kegelapan. aku tak ingin melupakan rapuh-hancurku, karena itulah masa yang banyak mendidikku. dan itu bukan aib.

kalau kehilangan bisa membuat patah, di tahun itu, empat hingga tiga tahun lalu, aku baru mengenali patah terpedih di hidupku: kehilangan diri sendiri. 

sungguh identitas yang kubawa hingga usia dua puluh itu, hilangg. aku kelabakan. aku menjadi seorang yang tak jelas arah hidupnya sampai ke hariannya. tak bisa bangun, tak bisa tidur, tak bisa membaca, tak bisa menyimak, lemaah untuk hanya makan mandi mengurus diri. tangis berbulan-bulan. kebas hati. ketakutan hingga tubuh yang tegang terus menerus. jangankan tertawa, bisa bernapas tanpa desak berat sesak saja susah sekali. maka jangan tanya bagaimana kualitasnya saat itu dalam berinteraksi dg orang lain. dan lebih dari itu, pedih nyeri sakit yang sangat sulit dijelaskan. sangat sakit dan tak tau dimana letaknya. hingga dorongan melukai diri.. 

dan hatiku yang terus meronta bilang: yaAllaah aku ga pernah minta kaya gini! yaAllah aku ga pengen kaya gini! 

lalu hatiku jungkir balik sulit menerima: bagaimana bisa? gimana bisa aku harus ridha menerima diriku yang gelap? bagaimana caranya ridha dengan kegelapan meyesakkan? bagaimana ikhlas menerima aku jadi buruk? 

di sana aku belajar menerima diriku yang layu hampir mati, dengan rengkuhan lunglai berdarah-darah. 

patah hati sepatahnya. aku benci siapa aku. aku malu siapa aku. rasanya aku kehilangan segalanya. segala-galanya.. karena dirikulah kendaraan hidupku yang terus menerus lekat denganku. kehilangan aku, adalah kehilangan kehidupan.... 
____ ☆

maka ini kutulis untuk mengingatkanku,

beruntung sekali saat aku kembali menemukanku yang aku. kaya sekali ketika akhirnya diriku tak kehilangan aku. beruntung sekali ketika aku bisa menerima siapa aku dan aku mau bertumbuh hingga kini menjadi aku yang lebih baik dari yang dulu. beruntung sekali aku dibawa Allah-ku ke sini, melalui trauma panjang, luka batin menyesakkan di banyak titik sepanjang kehidupan, dan mengambil makna darinya..

Maha Besar Rabb Yang mengembalikan diriku dalam keadaan lebih baik, dan mendidik-menguatkan-membimbingku dalam melalui patah terberat itu.

Ya Rabb barakahi sisa hidupku.. ringankan dan kayakan dengan cahaya-Mu

Komentar

Postingan Populer