Tertiup-tiup Angin
kadang hati butuh dilimpahi sayang, kadang butuh diberi teguran. dan di tengah dunia maya yang menyelusup tak hanya memenuhi ruang-ruang rumah, tapi bahkan sampai ke ruang-ruang hati manusia ini aku mendapati pengingat dari Imam Tom Facchine.
di dunia yg berlimpah validasi dg satu klik, kita dibuat lelah oleh keakraban pada cara interaksi ini. menggetarkan hati siapapun untuk menilai keberhasilan dg berbagai pola validasi sosial media. kadang membuat menulis tentang Allah dan Rasul-Nya terasa lebih melelahkan dan tak lagi menarik...
Imam Tom bercerita tentang seorang yang saat berjalan bersama, ia memuji beliau terus menerus. tetapi yang membuat beliau makin tersadar akan tak urgennya pujian manusia adalah saat orang itu mengatakan: kalimat-kalimatmu benar-benat sejalan dengan yang aku pikirkan selama ini. "lalu bagaimana kalau yang kusampaikan bertengangan dg pandangannya?" tanya beliau saat menjelaskan akan hal itu.
beliau gambarkan, seperti pohon yang tertiup angin kesana kemari. akan jadi mudah goyah dg respon manusia. melepas prinsip-prinsip yang kemarin dipegang erat. mengikuti angin yang ditiup manusia sementara arah angin itu sangat tak pasti bahkan porak poranda karena saking banyaknya sumber angin itu.
padahal yg kita cari bukan persetujuan manusia (walau tidak berarti menjadi bersengaja melakukan yang bertentangan dg apa yg disetujui kebanyakan manusia). tapi ini perihal ingat-ingat lagi, apa alasan melakukan tiap keputusan besar hingga kecil...
Komentar
Posting Komentar