antidot
ada masanya dulu sangat tak suka dg konsep afirmasi apalagi menggunakan 'terimakasih aku'. seiring waktu, cara pikir itu berubah. ketika ternyata, kesadaran jiwa tentang kelebihan dan peran diri sendiri adl bagian penting dalam bertumbuhnya jiwa. sesuatu yg jg lebih dari afirmasi, ia koneksi..
ini bukan tentang aku aku aku, yg menumbuhkan egois n jumawa. ini tentang jejak tumbuh kembang manusia, yg usia 4-7 tahun punya kebutuhan self centred–menjadi 'pusat dunia' sekitarnya. dipuji kemampuannya, diakui, didukung. dengan itu ia jadi tahu berharga dirinya, jadi tau keunggulannya, jadi yakin dg diri n perannya sehingga kokoh dlm pijakannya.
tapi bila dewasa pun belum terpenuhi butuh itu, kemana ia mencari? dalam dirinya..
lebih lagi bila dlm diri ada luka shame–hina/dipermalukan. sebagaimana racun yg butuh penawar, racun pada jiwa bukankah butuh antidotnya?
mendengar penjelasan Chris Germer-seorang psikolog klinis senior, antidot ini berupa self-compassion. welas asih pada diri. yg bermakna, menjadi teman penyayang pada diri seperti kita memperlakukan teman yg kita sayangi. "merasa hina adl emosi yg tak bersalah. hina sejatinya memanggil kasih sayang, kerinduan untuk dicintai," jelasnya. mendengarnya, membuatku termangu-mangu.
perjalanan menjadi teman diri sendiri, aneh pada awalnya. asing saat menyapa pertama. tapi perlahan, hubungan itu menjadi indah. penuhh, sebab syukur krn Allah telah beri diri yg berharga. bukan egois, justru diri sudah merasa cukup dipahami n diprioritaskan sehingga memberi ruang pada org lain dg senang hati. tak menjadi lemah sebab sudah mengenali kekuatannya tanpa perlu menggantungkan validasi makhluk.
iyess, rasa tak layak, malu-hina, tak berharga, tak percaya diri, penawarnya ada di jiwa. menemui diri sendiri dg welas asih, dan tentu tetap menggantungkan segala usaha n butuh pada Allah. menyimpul tali syukur pada Ar-Rahman.
jalan panjang, tapi kita ingin bertemu Allah membawa hati secantik-cantiknya..
Komentar
Posting Komentar