in dealing with helplessness
tulisan ini bukan tutorial hidup. menuliskannya pun dalam keadaan patah-patah jalan.
bedanya ujian hidup dg ujian sekolah itu, kadang jawaban ujian hidup ga selesai dikerjain sehari bahkan sebulan. bisa terus berlanjut n harus tetep dihadapi. mengalami keadaan ini, pelan-pelan pulih, kadang membuatku merasa hidup di 'alam lain'. cara kerja tubuh n jiwaku ga lagi seperti kemarin. lalu ketika orang-orang seusiaku melakukan berbagai kontribusi/peran hebat, aku melongo. 'what about me?'
haha. mungkin ini tulisan terjujur yg berhasil kutulis di publik. ah aku memang seharusnya belajar untuk jujur..
banyak sekali ketidakberdayaan yang kurasakan. yang mungkin tak dilihat orang lain. tapi membuatku merasa lemah karena itu bukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan sebagian orang. but i just couldn't do it. luka-luka tak tampak yang membuat melakukan berbagai 'hal ringan' memerlukan energi besar bagiku.
n dalam terengah-engah itu, aku tak mungkin minta orang lain menungguku...
hingga hari ini kumenuliskannya, aku masih terus menyeka air mata ketika tak sengaja membandingkan diriku dengan orang lain. "aku.. seperti tak lagi terampil hidup.."
*ehm, kuharap tulisan ini bukan sekedar uneg-uneg yang harus keluar. aku merasakan betapa berartinya rasa memiliki teman dalam ketidakberdayaan ini. semoga siapapun yang tengah merasa tak berdaya, tulisan ini menemanimu, dear.
aku belum menemukan jawaban paling pas dalam keadaan ini selain: memeluk diriku dengan penuh kasih.
meluangkan waktu untuk bercengkrama dengan diri. mendengarkan luap perasaannya. bernostalgia tentang perjalanan-perjalanan hidup. bilang "sayang" ke diri sendiri. merawat diri. salah satunya yg kulakukan adalah membuat video untuk diriku sendiri, dengan suaraku sendiri, menggunakan bahasaku sendiri.
selain itu, juga memberi makan pada jiwa. dengan mengenalkannya pada tujuan penciptaannya dan pada Tuhannya. untuk yang ini, kebetulan Ramadhan Series dari Sh. Omar Suleiman sedang bicara tentang itu. cuss, di channel Yaqeen Institute, series 'Why Me?'
menghadapi ketidakberdayaan mungkin tak selesai sekali duduk. mungkin perasaan-perasaan itu juga tumpukan luka yang mengendap bertahun-tahun. semoga Allah bimbing kita sepanjang jalan, semoga pulang, diijinkan menjadi hamba-Nya, memandang wajah-Nya, menemui-Nya dengan hati bahagia..
Komentar
Posting Komentar