hidup (lagi)

berulang kali menimbang untuk menuliskan ini, lalu kupikir aku tak pernah tau sampai kapan umurku, maka biarlah tulisan ini tersimpan di sini. bisa dibaca siapapun yg Allah gerakkan membacanya. dan aku tak memaksa semua orang menerimanya. terserah Allah.. menggerakkan hati siapa.

Alhamdulillaah. Allahuakbar. hari ini aku telah perlahan pulih, dari depresi. ya. sebagian orang menganggapnya tabu atau bahkan memalukan. sebagian lagi memilih menyebutnya luka atau yg lainnya, agar tak memandangnya sebagai penyakit atau menjadikannya 'identitas'. tapi aku memilih tetap menamainya, karena dari situ kondisi dikenali. karena dengan itu lebih mudah dimengerti. sebagaimana Abu Zayd Al Balkhi memberi kategori, aku percaya di balik mengkategorikan itu ada berbagai kemaslahatan di sana.

sebelumnya, maaf aku tak sedang membicarakan berbagai gangguan ini sebagai trend, atau kebanggaan. aku berlepas diri dari itu. 

beberapa orang, begitu mudah menertawakan kondisi ini dan menjadikan olokan. aku sendiri merasainya. dan itu tak mudah. sangat tak mudah. 

luka itu, mungkin telah disimpan pemiliknya begitu lama. tak jarang ditekan agar tak terasa. tapi dinamika kehidupan membuat luka itu sering tersentuh lagi. akhirnya darahnya merembes. tak terbendung. 

sebagian mereka, adalah hati-hati yang pernah dizalimi. jiwa-jiwa yang pernah ditinggalkan sendirian di tengah cobaan hidup yang amat menghimpit. dipermalukan tanpa empati oleh orang-orang. tertekan, ditekan, bertubi-tubi. 

bolehkah kuminta, kalau kau masih ingin lanjut membacanya, bacalah dengan hatimu yg indah itu?

mungkin banyak orang akan mengatakan, 'semua orang juga pernah mengalami kesulitan, tapi tak seberlebihan itu reaksinya'. ketahuilah, luka ini menyakitkan. amat menyakitkan. maka kalau semudah itu hanya soal memilih, mereka takkan memilih sakit. dicobai keadaan ujian saja sudah sulit, untuk apa sengaja memilih sakit? tidak ada yang mau memilih mendapat gangguan mental ini. tidak.. ini sangat sakit. 

biar kuceritakan sedikit dari yang kualami. aku pernah bertanya, bertanya berulang kali. bagaimana bisa ini semua terjadi setelah sekian lama kejadian berat itu terjadi? kenapa sekarang? kenapa begini dan begitu? aku tak pernah mengharapkannya. aku tak pernah membayangkan akan jadi begini. 

kamu tahu jawabannya? jawabannya adalah seharusnya aku tak menanyakan seperti itu. 

Rasulullah, wafatnya melalui sebab racun yang pernah dikirim wanita Yahudi melalui daging yang Rasulullah dan Sahabat makan. tapi kejadian itu telah bertahun-tahun. dan Allah hadirkan efeknya bertahun setelah itu untuk menjadi wasilah sebab wafatnya Rasulullah. adalah kuasa Allah. mutlak kuasa Allah untuk mengaktifkan kembali efek racun itu atau tidak pernah mengaktifkannya. dan di balik takdir Allah ada hikmah amat luas yang manusia lebih banyak tak tahunya. 

maka, maka siapa kita di hadapan ilmu Allah? 
pantaskah, bicara seperti amat tahu akan takdir Allah? 
atau, atau malah merasa keadaan sakit itu luput dari kuasa Allah?
nastaghfirullah

beberapa orang, memotong harapan mereka yang tengah diuji dengan menghakimi hubungan mereka dengan Tuhannya. menganggap mereka terlalu buruk.. dan kalimat senada. 

ah maaf, aku terlalu emosional di sini.

tahukah kenapa kalimat itu amat menyakitkan? 
begini, bayangkan seseorang diuji dengan kondisi sakit tak berdaya, berhari-hari terbaring lemah. bukan hanya itu, ia sendirian tak ada yang merawat. ditambah lagi, orang lain mengolok kondisinya. tapi ia punya seseorang yang amat menyayanginya. kepadanya ia bercerita apapun isi hatinya, mengadu, menangis, merengek. seseorang itulah, satu-satunya alasan ia masih percaya dan tak menyerah. 

lalu tiba-tiba ada orang lain yang mengatakan betapa buruknya hubungan ia dengan orang kepercayaannya. menghakimi apa yang ada diantara ia dan satu-satunya orang yang amat ia percaya. 

ia bergetar. bergetar hebat. bertanya-tanya, 'iyakah? iyakah dirinya buruk sekali? iyakah orang kepercayaannya sebetulnya sedang menghukumnya?'

sakit sekalii.. 

tentu hubungan dg Allah tak bisa dibandingkan dengan hubungan orang itu dengan sosok kepercayaannya. tapi begitulah gambarannya. 

kata-kata penghakiman itu, begitu menyakitkan. jangan sampai lisan kita membuat orang lain berprasangka buruk pada Allah. jangan sampai lisan kita merusak hubungan orang lain dengan Allah. 

inilah yang ingin kukatakan.
mungkin terkesan subjektif. ya ini dari sudut pandangku. dan aku memaknai sudut pandangku sebagai cara Allah memahamkanku suatu pelajaran. 

kini, ketika Allah dengan Maha Lembutnya memberiku kehidupan lagi, aku ingin menyampaikan pesan ini. pesan yang kuambil dari pelajaran takdir dari Allah. seseorang pernah memberiku pesan indah.

begini,
"pasti berat.. tapi Allah selalu menyayangimu. Allah selalu menyayangimu."


Komentar

Postingan Populer