Tang guh
Sebetulnya ingin kuselipkan file audio di sini, tapi ternyata ngga bisa :( hehe
Hari ini, Allah sampaikan padaku sebuah nasehat yang sangat kubutuhkan di waktu ini. Yakni, untuk kuat. Untuk tangguh. Pesan yang sampai melalui postingan Umi Haneen. Captionnya tertulis pendek saja, "Menolak menjadi manusia lemah!
Karena kejayaan abadi hanya ada di jalan Tuhan.
Mari bertanya pada sejarah
Bertanya pada benteng rustum,
Bertanya pada istana madain ketika panglima qa'qa' gelorakan takbir di sana!
Kesulitan membawakan kita pada kemulyaan bukan keputusasaan.
Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad"
Dengan video di museum yang menunjukkan bagaimana peperangan muslimin, perlengkapan perang, alurnya, dll. Backsound video itu, sebuah nasyid berjudul Ma Wahanna. Lirik yang mengetuk-ngetuk kesadaranku.
Ini link nasyidnya. Ya Allah. Semoga Allah balas kebaikan berlipat buat Umi Haneen.
Kondisi-kondisi yang bagiku membawa banyak sekali perubahan setahun terakhir ini, gelap berlapis, sesak bertumpuk, telah membuatku begitu kalut. Aku seolah tak percaya lagi dengan kata kuat, tangguh, dan semisalnya. Bagiku, lucu, paradoks. Apa itu kuat? Apa itu tangguh?
Iya. Bisa saja orang jadi kuat. Melampaui ini itu. Tapi aku, bahkan kakiku kini langkahnya lemah sekali. Lihat, rautku yang sebentar-sebentar sendu ini. Lihat, aku yang jauh berubah ini. Hilang. Aku pun hilang tenggelam. Aku tak bisa apa-apa, apalagi bermimpi. Melakukan hal-hal ringan keseharian saja, aku bisa kesulitan.. sangat.. Tangguh hampir terhapus dari kamus hidupku. Mungkin kubuang jauh-jauh. Cukup bagiku. Aku hanya ingin tetap hidup. Saja. Tentu, bersama pemikiran yang begitu, hidupku mulai hilang makna.
Maha Besar Allah, Rabbku, yang memberi petunjuk dengan Al-'Alim, Al-Hakim, Al-Halim nya. Allah tak menunjukiku pada nasehat seperti ini setahun lalu. Justru selama ini, pelajaran yang kuterima adalah tentang betapa rentannya manusia ini, vulnerable. Manusia ini lemah. Kita tak bisa apa-apa dan sangat butuh pertolongan-Nya. It's okay to cry. Enggapapa nangis, rapuh, lemah sekali. Minta sama Allah. Bersandar pada Allah. Kita sungguh bukan siapa-siapa, tak bisa apa-apa, bahkan takkan ada, kalau tanpa Allah.
Pemahaman itu, membantuku memproses penerimaan akan kondisiku beserta keterbatasan yang membersamainya. Tentang berbagai hal yang dulunya gampang aja, berubah jadi sulit bahkan tak (belum) bisa. Untuk menerima ketakberdayaan sebagai manusia. Mengakui bahwa aku memang tak punya apa-apa, Allah bisa bebas mengambil atau menyerahkan titipan-Nya. Untuk memeluk ketakberdayaan dan kerentananku.
Lalu kini, Allah sampaikan padaku nasehat tentang kuat. Ketika Allah nilai aku sudah bisa menerimanya. Ketika aku sudah Allah beri waktu untuk memprosesnya. Kalaulah nasehat cuma nasehat, kita bisa menemukan berjuta kutipan di jagat maya. Yang kita butuhkan adalah petunjuk dari Allah, Rabb yang paling mengerti kondisi dan kebutuhan kita. Sehingga nasehat itu menunjuki arah hidup kita, menyentuh hati kita. Maka semoga lisan kita tak lupa mohon petunjuk pada Allah di tiap keadaan kehidupan.
Dua nasehat tentang lemah dan kuat itu, tak bertentangan. Manusia sungguh begitu lemah hingga nafasnya sendiri saja di luar kuasanya. Tapi manusia juga bisa menjadi kuat dan tangguh menghadapi rintangan kehidupan ketika Allah beri ia kekuatan. Kita bisa kuat, melampaui kemustahilan, ketika senantiasa menjunjung tinggi nama-Nya.
Beberapa terjemahan lirik dari nasyidnya,
Kami tidak pernah lemah
Kamilah anak cucu Al Mutsanna
Di atas kemuliaan kami melangkah
Tanyakan pada sejarah: siapa kami?
Kemenangan kami adalah peperangan Dzatu Tsalatsil
Kemuliaan kami ada di benteng Tustur
Dan tanyalah istana Al Madain
Yang di sana Al Qa'qa' bertakbir
Di atas jalan Allah kami melangkah
Menapaki padang-padang pertempuran
Kami tak peduli walau harus mencerabut gunung
Tanyakan pada pasukan salib
Tanyakan pada pasukan Tartar
Adakah kami berputus asa dalam pertempuran
Dan apakah pengepungan dapat meremukkan kami
Maka ingatlah pembebasan kota Makkah
Setelah kesabaran dan penantian panjang
Jalan berliku di lembah Lakkah
Menembus ombak di lautan
Dear, dalam cobaan kehidupan apapun, setan takkan peduli sesulit apa yang kita lalui, mereka terus mencari celah agar kita kalah. Semoga Allah senantiasa kuatkan kita mencari ridha-Nya, dan membuat rugi musuh-Nya.
Komentar
Posting Komentar