Salamun 'Alaikum, Embah
Hari ini, setelah dua tahun, aku akhirnya berkunjung kepadanya. Mbah kung ku. Qadarallah, Allah gerakkan kakiku untuk mengunjungi makam beliau. Meski sudah dua tahun berlalu, rasa sendu itu masih lekat di hatiku. Kala itu, mbah kung pergi selamanya ketika aku ada di tempat yang cukup jauh. Hanya bisa menyaksikan sebentar dari videocall.
Mbah kung bukan embah sempurna. Aku mengenali beberapa karakternya. Tapi mbah kung adalah mbah kung paling keren sedunia. Masa kecilku penuh dengan memori mbah kung. Beliau amat sabar dengan tingkah anak kecilku. Tiap pulang dari TK, aku dijemput mbah kung menggunakan sepeda ontelnya. Aku selalu melarang mbah kung naik sepeda, jadi hanya aku yang duduk di atas sepeda. Dituntun aja, kataku, beralasan takut jatuh. Mbah kung tak pernah kesal dengan permintaanku itu.
Tiap sore aku ikut mbah kung mandi di kali. Kali yang betul-betul ada di antara sawah dan sungai, airnya dari mata air yang keluar di antara pepohonan. Tak jarang mbah kung mengajakku nonton pertandingan sepakbola antardesa. Lalu pulangnya aku sudah tertidur di gendongannya. Diajarkannya aku permainan ini itu. Sampai besar pun, saat aku ingin bermain egrang, mbah kung menuruti membuatkannya untukku.
Betapa lekat ingatan ketika aku berpamitan ingin sekolah yang cukup jauh, mencium tangannya yang duduk di kursi teras hendak melepasku. Lalu katanya, waah kok jauh ya ma. Aku tak pernah tau, kalau itu pemandangan terakhir yang bisa kusaksikan, dan itu kalimat terakhir yang kudengar langsung dari beliau. Allahu yarham.
Banyak sekali peran beliau yang begitu berpengaruh padaku hingga kini. Dari sana aku memahami, bahwa tiap manusia sudah Allah tuliskan peran pentingnya di dunia. Dan salah satu peran penting mbah kung di dunia, adalah menemani pertumbuhanku, mengenalkanku pada banyak hal.
Di makam mbah kung, aku melihat matahari tenggelam dari depanku. Entah sore tadi rasanya indah disaksikan dari makam yang ada di tanah cukup tinggi itu. Semoga tempat mbah kung dan almarhum yang lain juga indah ya, di barzakh sana.
Betapa kehidupan ini, sementara sekali ya mbah. Aku ingat sekali, dulu aku kecil embah mengajakku ziarah ke makam mbah uyut. Menyaksikan mbah kung berdoa di samping makamnya. Kini aku yang berkunjung, dan mbah kung ada di dalam sana. Waktu terus berlalu mbah. Sungguh aku tak punya apa-apa, selain amal yang kelak menemaniku. Aku bukan siapa-siapa, dan pada akhirnya dunia akan lupa. Betapa... Cita-cita tertinggi sesungguhnya surga; pulang dalam ridha dan diridhai-Nya.
Titip doa, buat mbah kung, dan mereka yang telah tiada. Mungkin, dengan begitu terbatas dan lemahnya diri ini, memberi kebermanfaatan untuk yang hidup saja belum mampu. Tapi semoga dengan doa, bisa menjadi jalan kebermanfaatan bagi yang telah tiada.
Allahummaghfirlahum warhamhum wa'afihim wa'fu'anhum wa akrim nuzulahum wa wassi' madkholahum waghsilhum bil ma'i wa tsalji wal barad
Komentar
Posting Komentar