Sepi

 Aku takut sebenernya kalo nulis pendapat sendiri, takut salah, takut ngga ada manfaat. Ini cerita yah, mungkin aja salah, syukur-syukur ada manfaatnya.


  Di tengah hiruk pikuk dunia ini, aku sering bingung, sering bimbang sebab terlalu banyak suara. Keriuhan itu kadang nampaknya bagus, banyak manfaat, jadi tahu banyak hal, tapi lama-lama ternyata lelah. Lelah sebab informasi yang diterima mata ama telinga membludak, belum lagi tanggung jawab ngejalani hari-hari yang sesungguhnya. Hidup yang sebenernya, yang nggak di dunia maya. Jadi kayak punya dua dunia. 

  Memang awalnya nganggep, halah kan sosmed buat hiburan aja. Iya betul hiburan. Tapi dalam sehari, waktu buat sosmed terlalu lamaa. Terus sadar atau enggak, info yang ada di kepala itu ya yang dilihat di sana, lebih parah lagi kalau yang dilihat itu hidup orang lain. Cuaapek. Hidup orang lain itu nggak cuma temen ndiri loh ya, juga artis-artis, influencer, film dari kisah nyata, gosip, yang lagi trend, termasuk perkembangan hidup orang-orang sekitar juga sih. 

  Sekarang udah jamannya orang menyelesaikan masalah di sosmed, negur orang lain di status, ngungkapin perasaan di status, ngomongin orang di status, dst. Apa itu bener? Apa itu salah? sila tanyakan ke nurani masing-masing. Yang aku rasain, ada banyak hal yang hilang, semacam, ademnya nasihat, rasa kangen, rahasia, privasi, dll. 

  Selain informasi tentang orang lain, juga informasi tentang hal-hal lain, yang saking banyaknya jadi simpang siur. Kasus-kasus makin banyak, sebab problem orang di ujung dunia sana kabarnya bisa sampai sini, yang mau nggak mau jadi harus tahu. Tahu gimana ngadepinnya, gimana hukumnya. Dari masalah rumah tangga orang sampai masalah rumah tangga negara orang. Ah pokoknya jadi banyak berita yang masuk. Banyak juga hal-hal baru yang cepet banget sampainya. Sekarang, orang nyari duit bisa macem-macem caranya. Yang itu juga butuh ilmu. Harus tahu asal-usulnya.

  Hehehe. Kayak ngomongin buruknya terus ya. Banyak kook baiknya, iya. Cuman kan aku emang lagi nyeritain keresahan di jaman ini.

  Kalo kata Sh. Abdal Hakim, dan beliau juga ngutip dari buku atau pernyataan seorang tokoh gitu, 

"Zaman kita ini disebut sebagai zaman kesepian. Di kota-kota penuh orang, tapi orang-orang itu tak betul-betul terlibat dengan tetangganya, orang-orang ada di rumah tapi tak betul-betul terlibat dengan keluarga. Satu demi satu tradisi masyarakat manusia dirampas, kita mengalami kesepian. Family loneliness, natural loneliness. Kesepian keluarga, sepi dari alam."

  Ndak jarang, banyak momen hilang sebab manusianya fokus dengan kepentingan status. Juga perasaan-perasaan baru, semacam, cemas setelah lihat status orang, sakit hati sebab postingan orang, hubungan renggang karena komenan, sampai jatuh cinta setelah liat foto orang. Lagi-lagi, apa itu salah? entah. Yang jelas, emang nyata, pengaruh sosmed begitu besar ke kehidupan.

  Pada akhirnya, benteng dari kesimpang siuran ini ya ilmu. Sebab kalau diem aja, mesti dihantam juga sama kenyataan. Kalau ndak ngisi kepala dengan ilmu, informasi yang nggak penting lah yang masuk memenuhi kepala.

 Media sosial itu sekedar informasi, bukan ilmu. ketika anda membaca informasi, ia akan hilang, dan informasi tdk selalu benar. tp kalau anda membaca ilmu, membaca buku dg sumber yg otoritatif, anda akan mendapatkan sesuatu. itulah yg akan membentuk 'worldview' seseorang, memperkaya pengetahuan dan memperkuat keyakinan anda terhadap islam. izdada 'ilman wa izdada hudan' itu ada di situ. (Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi)


 Biar media sosial menjalankan tugasnya sebagai sarana, bukan merampas sebagian besar kehidupan. Tak berkabar, atau tak mencari kabar, ndak selalu salah bukan? Sejak kapan kita mengkhawatirkan manusia?, kata Sheikh Edebali ke Mama Bala. Bukankah kita sudah titipkan ia kepada Allah? 


Komentar

Postingan Populer