Udan
Ben gapopo udan-udanan. Adem ancen. Tapi daripada mendung terus, peteng, mending diudanke. Ben lego. Sopo reti ngko ono pelangi.
Hemm.
_hai hai! Apa kabar? Baik kan? He emm ngomong aja baik. Selalu ada yang baik kan tiap harinya? Nggak maksa kok. Kalo emang lagi gak baik ya bilang aja gak baik, kalo mau nangis ya nangis aja. Yang ini pun akan berlalu.
_patah. Gimana rasanya patah? Rasanya gak tega liat batang yang dulu dipupuk, disiram, mekar bunganya, rindang, adem, terus patah. Ambruk. Bunganya ketindihan, daun-daunnya rontok. Gak bisa ngulang kenangan main-main di bawahnya. Gak adem lagi. Malahan, karena patah jadi ambruknya ngehalangi jalan. Ah, patah bisa begitu menyedihkan.
_never mind. Beginilah jalannya. Awalnya pengen punya alur yang keren, tapi ternyata ngga bisa juga maksa. Ya sudah kalau cara terbaiknya ambruk. Huaah. Hmmmh. Heem semua juga manusia. Terus berbaik, kebaikan tak pernah kehilangan jalan alirnya. Tak pernah rugi. Tak akan kering.
_tutup. Jangan pernah lagi main-main buka pintu. Biar angin masuk pun, tak boleh. Itu loh ada jendela. Sekarang ini tengah banyak orang lalu lalang. Ingin mampir. Siapa tahu yang ini nyaman. Tapi rumahmu bukan rumah ampiran kan? Makanya tutup saja. Tak ada kecualian. Semua bisa saja menghabiskan suguhan lalu pergi. Sama saja kecuali yang dari awal memang hendak menetap.
_akhir. Akhir adalah keputusan. Akhir adalah jalan. Jalan yang ditutup untuk melangkah di jalan lain. Akhir berarti sudah. Sudah soal apapun, siapapun, yang membuat salah. Terserah. Bukan waktunya membenah, karena sudah. Maka, terimakasih.
_kepada siapa? Terus memperbaiki yang retak, memenuhi yang lubang. Kepada siapa semua membaik itu ada? Diri sendiri. Karena kamu adalah titipan kepadaku. Kupimpin, agar kelak saat kau diambil, kembali dengan baik. Ridha dan diridhai.
Komentar
Posting Komentar