Cin ta

 ♡ Waktu itu ketika di rumah eyang semua keluarga takziah ke luar kota, hanya ada aku dan adek-adek. Meski sering ke sana, tapi bukan di rumah sendiri tuh beda rasanya, apalagi sampe malem sendirian. Ndak masalah sih. Lagian lingkungan rumah eyang lebih rame. Ya sudah aku biasa saja. Tapi, ternyata setelah maghrib mbah uyut dateng. Nemenin kita. Beliau tuh bukan seorang yang banyak bicara, tapi menyenangkan. Dulu, waktu aku masih kecil mbah uyut suka make topeng monyet terus ngejar kita. Kita yang dikejar larii kenceng sambil ketawa antara geli dan takut. Ngakak sih pas inget itu sekarang. 

Nungguin cucu cicitnya, mungkin itu bukan hal besar. Tapi buatku itu besar. Di usia beliau yang sudah lanjut, dengan cicit yang sudah beberapa yang kuliah, mbah uyut masih nungguin kami. Bahkan kalau beliau tahu ada cucunya yang mau datang, ditunggulah kami di depan rumah. Ndak peduli selarut apapun. Beliau hanya pulang sebentar jika ada keperluan, lalu duduk di kursi depan lagi. Hanya ingin memastikan kami sampai rumah dengan selamat, lalu beliau pulang. 

Ketika aku di rumah eyang hanya dengan adek-adek itu, keluarga yang habis takziah baru sampai rumah tengah malam. Aku saja yang menunggu sampai ketiduran. Tapi mbah uyut tetep duduk di depan, sendirian. Padahal sebetulnya aku juga sudah sangat cukup besar untuk tak apa ditinggal di rumah. Tapi mungkin buat embah, aku masih buyut kecil yang dulu cengeng. Dan kami perempuan. Ah, embah. Semoga embah selalu Allah kasih hidayah dan sehatt. Aamiin.

♡ Eyang uti adalah perempuan kuat yang aku saksikan sendiri seberapa kuatnya beliau. Merawat eyang akung sekian tahun ketika beliau sakit, menyaksikan kepergian eyang akung, merawat mbah uyut uti ketika tubuh beliau semakin lemah, menyaksikan kepergiannya, lalu di rumah sendirian karena anak-anaknya bekerja dan jauh rumahnya. Tapi eyang ndak pernah nampak putus asa, bahkan lebih ceria daripada aku yang jauh lebih muda. 

Ketika aku di rumah eyang sampai sekian lama dan hanya berdua, biasanya kami nonton sinetron saat malam. Sambil nonton, eyang cerita apapun dan selalu berakhir kami tertawa sampai capek rahangnya. Bahkan ada beberapa cerita favorit yang sering jadi siaran ulang, tapi tetap saja, ngakak kita. Kalau endak, sinetron itu kita komentari sampai lebih ribut daripada konflik sinetronnya. Katanya, eyang tuh sebel sama tokoh ini. Tapi ya tetap saja, tiap malam nontonnya itu lagi. 

Eyang sering bilang, jangan lupa bahagia. Haha. Dan sekarang aku betul baru belajar bagaimana seni menjalani hidup ala eyang. Ndak hilang arah. Sabar. Tapi ndak berarti jadi beraat ngejalaninya. 

♡ Mbah uti. Banyak banget yang keren dari mbah uti. Dan ya, sabar. Sabar beliau yang panjaaang. Yang aku sendiri entah gabisa ngebayangin. Cerita hidup beliau aku pikirkan sejak dulu. Gimana.. gimana bertahan selama itu. Dan embah adalah seorang yang sangaat rendah hati. Sungguh. Ah, banyak sekali dan aku bingung menceritakannya. 

Adalah keikhlasan embah yang sampai saat ini aku masih belum begitu mengenal. Keikhlasan yang mengantarkan anak-anaknya menjadi orang yang paham hidup. Aku ndak bilang dengan istilah, dadi wong. Karena sukses di mata orang itu beda-beda. Tapi orang-orang yang paham hidup dan ndak salah orientasi, itu menyelamatkan di dunia dan akhirat, insyaallah. 

♡ Mbah kung. Aku banyak bermain dengan mbah kung saat kecil. Main wayang, mainin radio embah, bahkan kadang gangguin kalo beliau sedang mendengarkan ketoprak, terus main ke kali. Bahkan dulu aku biasanya pulang dari TK dijemput mbah kung. Aku naik sepeda, mbah kung nuntun. Haha. Soalnya aku takut kalo bonceng sepeda. Curang banget yak. 

Kalau aku minta sesuatu mbah kung suka sekali nurutin. Dibikinin ayunan, egrang, kadang badminton sama embah. Dibikinin kursi jugak. Soalnya dulu aku pengen ada kursi di halaman. Heheh. Nurutin imajinasiku kali yak. 

Semoga embah, eyang, semua, Allah kasih kesehatan, keberkahan waktu, bimbingan, ketetapan hati dalam iman. Aamiin.


Di sini aku hanya tengah merenungi bagaimana beliau-beliau mengalirkan cintanya. Mencintai kami. Belum lagi eyang akung, mbah yut min, yang suka sekali membelikan sesuatu untuk kami. Membuatkan apa-apa yang bisa beliau buat. Yang padahal membuatnya itu memakan waktu. I mean, mereka sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk kami. 

Yah. Mereka punya cinta yang bening. Betapa di kehidupan Allah kasih macam-macam cinta yang melinangi hari-hari kita. MasyaAllah betapa kita dicintai.

Komentar

Postingan Populer