About Pride

  Pagi begini, setelah pagi-pagi yang kemarin dingin sekali, aku keluar lagi. Nonton naiknya matahari di depan rumah dari balik pepohonan lebat, sembari nunggu bunga-bunga mekar. Entah pagi ini memang lebih hangat atau karena aku yang sudah mulai bangkit dari malas. Haha

  At this point, aku betul-betul sadar kalau aku ndak pernah bisa keluar dari subjektifnya manusia, dan manusia dari subjektifnya aku. Semua beropini di kepala masing-masing. Sekarang ini, aku juga. 

  About pride, hanya sedikit sekali golongan manusia yang tidak milek dengan kebanggan. Anak bangga ke orangtua, orangtua ke anak, sekolah ke siswa, siswa ke sekolah, mahasiswa ke kampus, kampus ke mahasiswa. Bangga. Begitu itu benar atau tidak, aku ndak tau. 

  Tapi begini, aku mau keluarkan coretan-coretan pikiranku. Hari-hari ini, sebagai alumni SMA yang baru aja lulus, tentu sedang santer-santernya berita tentang si dia masuk kampus ini, si dia yang lain kampus itu, dst. Berita baik. Alhamdulillah. Dengan setulus hati aku ikut senang melihat itu. Tentu, aku manusia biasa yang ternyata masih suka dengan rasa 'bangga'. Salah satu kebahagiaan bersebab itu adalah bahagiaku melihat teman dekatku masuk suatu kampus bagus yang sesuai dengan tujuan dia. Aku ndak ngomong soal gengsi, aku senang karena aku sungguh tahu tujuannya dan bagaimana dia mengusahakan. Tak hanya dia sudah berjuang, tapi juga cara pandangnya yang membuatku, yah you got it!

  Di sisi lain, aku sebagai seorang yang bukan termasuk yang disebutkan itu, jadi mikir. Sama sekali bukan ingin dibanggakan. Justeru kondisi ini aku jadi tahu sudut pandang lain. Begitulah, sebuah kondisi lain mengajarkan kita pelajaran lain. 

  Ini ngomongin tentang kampus ya. Jadi bagaimana tentang mereka yang kuliah bukan di PTN? Bagaimana soal mereka yang memilih bekerja dibanding kuliah? Dari sini aku mendengar berbagai macam suara. Sungguh ini ndak terjadi di satu tempat aja. Bahkan barangkali dimana-mana pun begini. 

  Tentu, ada yang merasa, ah aku ini tak bisa dibanggakan. Lah emang cuman gitu yang bisa dibanggain? Apa salahnya milih jalan yang ini? Oke kalau gitu besok aku mau ke luar negeri biar mereka bangga. Dan bukan mengada-ada, mungkin hal ini bisa menjadi kesedihan yang cukup panjang buat beberapa orang. Atau galau. Atau sejenisnya.

  Bangga sudah jadi bagian dari dunia kita. Soal prestasi, posisi, relasi, and so on. Padahal ini perihal takdir. Menjadi yang paling cerdas, atau paling kuat, atau paling rajin, tak menjamin jadi berhasil lalu bisa menjadi kebanggaan. Thinking about those both sides, ternyata kita tak bisa menjamin akan jadi yang dibanggakan atau diabaikan. Kadang kita yang jadi pemeran, kadang orang lain. Lalu, apakah kebanggan layak menjadi salah satu dari bahan bakar jalannya kehidupan?


 

Komentar

Postingan Populer