The Longing Soul
Semalam hujan. Deras. Jendela jadi mengembun. Tapi aku tak lagi suka menulis di permukaannya. Mengeja nama, dulu biasanya. Haha. Bahagia sekali waktu itu. Besar-besaran tulisan. Bangga kalau namanya paling besar. Padahal tulisan itu gampang sekali hilang. Entah kering. Entah kena tetes air.
Nama. Bermakna sekali ya? Ada doa disitu. Ada mimpi disitu. Mungkin, mengoreksi tujuan bisa dengan merenungi lagi nama. Dan nama, bisa menjadi begitu berarti, bagi seseorang yang punya ruang sendiri untuk si pemilik nama. Hmm. Aku kadang berpikir, kenapa bisa begitu ya? Ketika pemiliknya saja mungkin tak begitu memaknai namanya sendiri, tapi ada orang lain yang begitu suka namanya. Bwehe.

Komentar
Posting Komentar