The Longing Soul


  Semalam hujan. Deras. Jendela jadi mengembun. Tapi aku tak lagi suka menulis di permukaannya. Mengeja nama, dulu biasanya. Haha. Bahagia sekali waktu itu. Besar-besaran tulisan. Bangga kalau namanya paling besar. Padahal tulisan itu gampang sekali hilang. Entah kering. Entah kena tetes air.

  Nama. Bermakna sekali ya? Ada doa disitu. Ada mimpi disitu. Mungkin, mengoreksi tujuan bisa dengan merenungi lagi nama. Dan nama, bisa menjadi begitu berarti, bagi seseorang yang punya ruang sendiri untuk si pemilik nama. Hmm. Aku kadang berpikir, kenapa bisa begitu ya? Ketika pemiliknya saja mungkin tak begitu memaknai namanya sendiri, tapi ada orang lain yang begitu suka namanya. Bwehe.


Hemm
  Semua telah berubah. Bagaimana aku memperlakukan dan diperlakukan. Makin hari dunia menjelma rupa yang asing. Sulit dikenali. Bingung dihadapi. Ternyata dipertemukan dengan hal-hal tak sempurna, dan memang tak ada yang sempurna. Tapi ya kaget. Kaget ternyata bangunan yang kokoh bisa retak juga, bisa berlubang juga, kacanya bisa pecah. 

  Sabar lagi. Sabar lagi. Ndak semua emosi mesti dikatakan. Ndak semua tanggapan harus ditanggapi. Dan kita, memang tak bisa sempurna adil. Tapi, membenahi ketidakadilan harus. 

  Ada yang hilang memang. Ada yang berubah, iya. Disampaikan kangen-kangen itu ke ruas jalan, dimana dulu biasanya tertawa riang berlari di atasnya tanpa beban.

Komentar

Postingan Populer