#mnlslg
# Berlalu tak semudah itu. Tersenyum atas ingatan. Tertawa pada kerinduan. Menenun patah-patah kenangan. Menjawab, iya masih disini. Akan sesuatu yang justeru membuat pergi. Aku, apa terlalu peka membaca, atau berburuk sangka ia tengah pura-pura?
# Pagi,
Bungamu sudah disirami? Kudengar kemarin ada yang hampir patah rantingnya, katanya ada tanaman lain yang menumpang di sana. Ambil saja. Tak seharusnya tumbuh malah menyakiti yang lain. Oiya, bunga putih itu, disimpan baik-baik ya? Kuperhatikan memang banyak yang suka. Jangan berikan. Dia belum dewasa. Butuh waktu menjadikannya tangguh dengan cuaca. Selama itu, jangan biarkan ia dipetik siapapun. Sepertinya aku tahu siapa yang paling tepat jadi pemiliknya. Eh tapi nanti saja.
# Tadi sore ada yang mencarimu. Mengajak bermain. Sudah lama tak main, katanya. Tapi aku diam. Kupikir sudah bukan waktumu bermain lagi. Dia siapa? Bukan teman mainmu kan? Memang bukan putri kerajaan yang mesti pergi dengan pengawal, atau bangsawan yang tak boleh bergaul dengan orang sembarangan. Tapi kamu mesti tahu, justeru semakin dewasa, kacamu itu semakin rawan. Kalau terlanjur asyik bermain, kaca itu bisa jatuh tanpa sadar. Bila rusak, bisakah kamu menyusun lagi, pecahan-pecahan retak, untuk kembali sempurna memantulkan?
# Ia tak pernah beranjak. Dari bangku di atas gardu. Tempat menyaksikan sakit dan gembiranya kehidupan. Lelah katanya. Terkadang lirih ia bergumam, haruskah aku membaca semua gerik luka dan bahagia? Seolah semua kejadian menimpaku juga. Suatu saat ia mencoba beranjak. Meninggalkan bangku itu. Meninggalkan gardu itu. "Tak bisa, beginilah tulus yang kumengerti", ia kembali.
Komentar
Posting Komentar