Bab Sembilan Belas

 Aaii!

Bagaimana hari ini? 
Bagaimana minggu ini?
Bagaimana bulan ini?
Bagaimana hidup ini?
Sangat kuharapkan, milikmu baik. Pagimu cerah, ya kan? Hari ini ndak hujan. Mataharinya dateng sambil senyum. Masa iya kamu endak? 
  Enam ribu sembilan ratus empat puluh pagi kamu lihat. Mereka punya cara sendiri menampilkan pameran elok tiap harinya. Begitulah bagaimana keindahan melinangi hari-harimu. Bukankah indah itu menyenangkan? Bukankah indah itu menenangkan? Bahkan hanya mendengar kata indah saja sudah tersenyum. 
  Diantara enam ribu hampir tujuh ribu hari yang dilalui itu, ada hari yang kau akhiri dengan tawa bersama orang-orang tercinta, ada hari yang kau akhiri dengan senyum simpul, meski ada pula ketika kamu menangis sesenggukan, meringis kesakitan, bahkan menahan marah. Begitulah rangkaian hari, yang semoga kelak kau tuai balasan indahnya di surga.
  Meski betul tak perlu terlalu sibuk dengan kenangan, tapi dari apa-apa yang terjadi di belakang, kamu mesti belajar. Banyak belajar. Bahwa kecewa dan patah itu tak boleh dibenci. Biarkan mereka datang ketika diperlukan. Sehingga disitu kamu merefleksi, apa yang sudah kamu lakukan selama ini. 
  Memaafkan
  Menerima
  Tak hanya mereka yang punya salah, kamu juga. Maka seperti kata Ibnu Sina, bagaimana mungkin aku tak memaafkan padahal setiap manusia memang tengah mencari-cari jalan mana yang benar?
  You are just nobody. Bukan seseorang yang bisa mengubah duka jadi bahagia, pelita dari gelap gulita, atau apapun yang terlalu berarti. 
  Bukan mengatakan kamu tak berharga. Tapi lihatlah bagaimana ketika kamu absen dari sebuah keramaian. Ramai itu tetap ramai, ada tak adanya kamu. Yang mampu tetap mampu, membantu atau tidaknya kamu. Yang bahagia akan tetap bahagia, hadir tidaknya kamu. Dunia baik-baik saja meski kamu alpa. 
  Ini mungkin terlalu keras, tapi aku rasa kamu sudah cukup mampu menerima ini. 
Nah, di sisi lain kamu lihat. Rasakan. Ada masanya kehadiranmu bisa menjadi nyawa bagi seseorang. Ketika kamu datang pada hidupnya yang saat itu gelap, pengap, sehingga perlahan angin masuk, semburat mentari mengusir pengap itu. Kamu telah melakukan hal besar saat itu. Tapi bagaimana hidupnya menjadi kembali terang, rapi, dan segar, itu bagian pemiliknya. 
  Kamu berharga, karena kehidupan ini telah disetting untuk menjadikanmu seseorang yang berarti nanti, di sini, atau di akhirat nanti. Lihatlah bagaimana langit diluaskan sebegitu kokoh sehingga takkan roboh mengenaimu. Lihatlah bintang, bulan, yang indah membuatmu tersenyum meski saat itu kamu lelah luar biasa. Hanya dengan mendongak memandang langit kamu mendapatkannya. Lihatlah bunga-bunga mekar di sepanjang jalan. Memamerkan indahnya kepadamu. Agar kamu, lagi-lagi, tersenyum. Rasakan betapa banyak kasih sayang yang orang-orang berikan sehingga kamu tumbuh baik sampai saat ini. 
  Kamu berharga. Kamu ada disengaja. Semua kemudahan, hadiah, keberhasilan, hadir karena disengaja. Bukan hanya 'beruntung', 'bejo'. Tapi Allah sengaja menjadikannya penghiburan buatmu. Kamu sudah berjuang! 
  Ketika kamu menekuri lagi kehidupan, mengenal Yang Memberi kehidupan, kamu akan lihat betapa berharganya, mahalnya, kamu.
  Dan, kehidupan ini bukan soal betapa berharganya kamu buat orang lain, betapa kerennya takdirmu di mata orang-orang. Menghidupi hidup adalah berhenti dari pikiran bagaimana memuaskan tiap mata. Bagaimana membuat decak kagum. Posisi-posisi yang begitu tak pernah memberimu apapun. Kecuali lelah.
Banyak harus diperbaiki. Banyak yang harus diganti.
  Memperbarui lagi motivasi. Mengulang lagi lantunan niat yang pernah kau sampaikan di awal. Lelah belum hendak berakhir. Tapi janjiNya, pasti nanti ada akhir.
  Jadilah mata air. Yang tak kerontang karena kemarau. Tak banjir karena hujan. Mencintai. Adalah cara indah mengganti seluruh kecewa, patah, marah. Kita punya cinta, yang bisa kita berikan dan takkan berkurang.

Tak ada yang bisa kamu miliki seutuhnya. You're nobody. Also somebody.

Salam, 

Semoga bisa diambil pelajaran meski hanya se-kata

Komentar

Postingan Populer