Manis


 Pagi itu aku bangun dengan rasa sesak. Menyesal untuk apa terbangun. Bukankah memang tak ada ruang harap? Sia-sia rasanya masih menghirup. Ah, tapi aku tak mau mengatakan yang tidak-tidak pada Sang Pemberi Hidup.
 Tak sengaja tanganku mengentuh sesuatu hangat. Segelas teh hangat. Dan sebuah senyum disempatkan menyapaku. Air mataku meleleh. Untuk menyadari bahwa Pemilikku sengaja mengirim malaikatnya pagi itu. Tersirat bicara, kamu berharga.

Sejak itu, aku percaya bentuk sayangNya ada di mana saja.
Sejak itu, aku tak menyiakan se-perhatian atau hanya se-sapa. Menjadi malaikat, meski sebentar saja.

Komentar

Postingan Populer