Bangun
Andai jatuh dan bangun adalah soal waktu, maka tunggulah sebentar. Kian pekat malam, penanda fajar kian dekat. Mentari akan muncul diantara gunung-gunung, menembus jajaran pepohonan hutan, menampilkan efek Tyndall, mistis, seperti jalur peri yang tengah turun. Lihatlah di depannya, aliran air mengalir membentur cadas-cadas dengan bahagia, sepertinya tak sakit, begitu terus, menurun ke hilir, menciptakan kecipak-kecipak merdu. Di sekitaran, burung, kupu-kupu, ayam hutan, menyambut pagi tanpa beban. Seolah tahu bahwa pagi yang indah makin menawan karena hadirnya mereka.
Andai jatuh dan bangun soal tempat, maka bangkitlah, buka jendela. Bocah-bocah desa tengah bersepeda, berboncengan, saling menunggu, tak ada yang tertinggal, tertawa meski habis jatuh. Bila hujan turun, mereka keluar, mencebur ke sungai, menyiram kawannya yang enggan masuk ke sungai, tertawa, seolah tak kedinginan. Lihatlah para kuli yang kulitnya menghitam, tertawa keras di kedai-kedai pinggir jalan, lupa bahwa tangannya memar, kakinya terkilir.
Andai jatuh dan bangun soal nasib, maka mari berjalan sedikit dan saksikan. Di panti tuna netra, penghuninya tengah saling tertawa, menertawakan diri dan rekannya yang masih sering salah jalur. Tertawa renyah mendengar lawakan sederhana. Berpegangan tangan menuju meja makan. Lagi-lagi tertawa, meski selebar apapun tawanya, takkan mampu melihat juga. Di rumah sakit, seorang nenek thaler sedang geli melihat tingkah cucunya. Baru saja ia bangun dari bius, setelah kemarin menjalani operasi. Semua yang menjenguk dibuatnya tertawa, bahkan perawat dan dokternya. Sorenya ia ngotot mau jalan-jalan, menyapa siapapun yang ditemuinya.
Bangunlah perlahan. Semua adalah anugerah. Susahnya juga karunia. Andai mau baper, ketahuilah ada yang lebih berhak baper daripada kita.
Andai jatuh dan bangun soal tempat, maka bangkitlah, buka jendela. Bocah-bocah desa tengah bersepeda, berboncengan, saling menunggu, tak ada yang tertinggal, tertawa meski habis jatuh. Bila hujan turun, mereka keluar, mencebur ke sungai, menyiram kawannya yang enggan masuk ke sungai, tertawa, seolah tak kedinginan. Lihatlah para kuli yang kulitnya menghitam, tertawa keras di kedai-kedai pinggir jalan, lupa bahwa tangannya memar, kakinya terkilir.
Andai jatuh dan bangun soal nasib, maka mari berjalan sedikit dan saksikan. Di panti tuna netra, penghuninya tengah saling tertawa, menertawakan diri dan rekannya yang masih sering salah jalur. Tertawa renyah mendengar lawakan sederhana. Berpegangan tangan menuju meja makan. Lagi-lagi tertawa, meski selebar apapun tawanya, takkan mampu melihat juga. Di rumah sakit, seorang nenek thaler sedang geli melihat tingkah cucunya. Baru saja ia bangun dari bius, setelah kemarin menjalani operasi. Semua yang menjenguk dibuatnya tertawa, bahkan perawat dan dokternya. Sorenya ia ngotot mau jalan-jalan, menyapa siapapun yang ditemuinya.
Bangunlah perlahan. Semua adalah anugerah. Susahnya juga karunia. Andai mau baper, ketahuilah ada yang lebih berhak baper daripada kita.
Komentar
Posting Komentar