Aisyah-nya
Ini ditulis berkenan dengan saya yang terlalu baper baca The Road to The Empire. Aisyahnya bang Takudar :D
Dia pamit, pulang
Menyadari megah bukan rumahnya
Ingat Takudar bukan sekelasnya
Bukankah sekian lama ia tumbuh di sepi dan sunyi
Dia pamit, pulang
Rindu-rindu tengah berbunga
Halaman rumah memanggil-manggil namanya
Disini, sungguh dia bukan siapa-siapa
Dia pamit, pulang
Mengingat ranah elit justeru penuh resah
Iri, kuasa, nama
Diperebut, dilirik-lirik sinis
Dia pamit, pulang
Disini ia satu dari keramaian
Bukan lagi satu, teman kesepian
Semua baik-baik saja
Tanpa dirinya yang bukan siapa-siapa
Dia pamit pulang
Lebih karena tak ingin makin terluka
Biar semua pengorbanan ditanggung sendiri saja
Air matanya, nanti toh akan kering juga
Ia kini muslimah
Maka semuanya sudah
Ia pasrah
Almamuchi,
Pada senja sendu ia pergi
Membawa selaksa kenangan di hati
Dengan nama Aisyah-nya
Ia menambah hati Takudar bergetar
Dia pamit, pulang
Menyadari megah bukan rumahnya
Ingat Takudar bukan sekelasnya
Bukankah sekian lama ia tumbuh di sepi dan sunyi
Dia pamit, pulang
Rindu-rindu tengah berbunga
Halaman rumah memanggil-manggil namanya
Disini, sungguh dia bukan siapa-siapa
Dia pamit, pulang
Mengingat ranah elit justeru penuh resah
Iri, kuasa, nama
Diperebut, dilirik-lirik sinis
Dia pamit, pulang
Disini ia satu dari keramaian
Bukan lagi satu, teman kesepian
Semua baik-baik saja
Tanpa dirinya yang bukan siapa-siapa
Dia pamit pulang
Lebih karena tak ingin makin terluka
Biar semua pengorbanan ditanggung sendiri saja
Air matanya, nanti toh akan kering juga
Ia kini muslimah
Maka semuanya sudah
Ia pasrah
Almamuchi,
Pada senja sendu ia pergi
Membawa selaksa kenangan di hati
Dengan nama Aisyah-nya
Ia menambah hati Takudar bergetar
Komentar
Posting Komentar