Lepas II



 Aku masih diudara ketika membuka kertas lusuh ini. Kutemukan tak sengaja.

"Saat itu terakhir kali aku melihatmu. Sungguh tak sengaja. Padahal aku takut untuk melihatmu lagi. Takut setelahnya bayangmu ada dimana-mana. Lalu aku tersiksa sendiri. Bayangkan, tanganku bergetar hebat. Ah sebetulnya aku sendiri tak percaya dengan ini. Aku menarik nafas dalam menenangkan diri. Sejak kapan kau berhasil menggetarkan hatiku? Sejak dulu sekali aku duduk dibelakangmu. Tiap hari. Tapi ternyata semakin jauh kau, semakin sering kulihat gambarmu. Sehingga segala soalmu makin akrab bagiku.
 Lalu aku terbangun. Bahwa aku tak boleh terus seperti itu. Pertama, aku terlalu lelah menghabiskan waktu untuk seorang yang aku sendiri tak tahu kemana tatap matanya. Kedua, jalan juang masih terlalu panjang. Tak mungkin malah aku membuat simbiosis parasitisme.
 Aku tak suka berlebihan. Aku tak ingin melankolis. Tapi aku tak bisa bohong kepedulianku berlebihan. Sehingga aku khawatir akan jalanmu itu. Popularitas, harta, wanita, itu semua ada. Lirih kadang aku membubuhkan namamu dalam doa. Tentu tak sering. Aku malu pada Rabbku. Gantinya, aku doakan semua orang. Semua muslimin.
 Setidaknya bila aku tak bersamamu ke surga, kita sama-sama masuk surga. Dan bukan sama-sama ke neraka, apalagi ke neraka bersama.
Hanya ini pesanku, titip sehat & taat!
*ah, aku ini aneh. Tak mungkin kau tau ini. Lagian aku akan membuang kertas ini. Begini biasanya caraku melupakan. Menulis lalu kubuang. Tapi bgmn dg suaramu. Aku tak kuasa membuangnya? "

  Aku menghela napas dalam. Dalam sekali hingga aku takut udara tak bisa keluar lagi. Bagaimana mungkin kertas ini baru kutemukan padahal sudah ditulis empat tahun lalu. Hauna. Yang aku mati-matian melupakannya. Empat tahun lalu, kutunggu salam darinya yang biasanya meneduhkan. Ternyata ia sengaja tak menyapaku lagi. Bukan karena egoismenya, tapi karena kepeduliannya yang begitu jernih.
Di bawah kertas itu tertulis kecil,
"Aku tak mungkin menitipkanmu kpd Allah karena aku tak pernah memilikimu. Tapi aku titipkan hatiku kpd Allah. Sehingga bila hatimu juga dititipkan kpdNya, maka hati kita akan saling dipertemukan sesuai caraNya."
  Kali ini aku tersenyum. Sudah, Hauna. Sejak hari itu kutitipkan hatiku padaNya. Aku rasa hari inilah hati kita dipertemukanNya.
  Pesawat sudah lengang. Kakiku melangkah ringan hendak menuju pintu keluar. Hatiku mencelos melihat perempuan dengan jilbab hitam panjang masih duduk memandang luar jendela sambil memegang pulpen dan buku di tangan.
Kuberanikan diri. "Hauna, belum turun?"
Awalnya ia kaget. Lalu berseru, "Sudah ijin pramugari kok!"
Aku berlalu dengan tersenyum. Uy! dia juga sendiri : )
Oi, kenapa begini? :D


Aku.. aku ngakak parah membaca ulang ini. Tapi eman kalau dihapus. toh ini prosesku coret-coret sedari dulu. wqwq




Komentar

Postingan Populer