Faith and The Journey
Aku berdiri di rooftop sendiri. Masih terlalu pagi. Jadi masih gelap. Awalnya merinding tanpa alasan yg jelas, lalu lama-lama hilang. Apalagi menyaksikan penduduk pulang dari masjid. Tapi ada seorang yang pandangannya selalu keatas. Kearahku. Hey, what's wrong with me?
________________________♡___________________
Ok, i gonna say about..
Aku bersyukur dengan tenpat dimana aku ada sekarang, dan sebelumnya dan sebelumnya. Lingkungan memang sangat berperan membentuk kita. Seseorang bisa amat shalihah, misalnya. Ditempat yg disitu mendukungnya untuk mengaji, shalat sunnah, berpakaian yang baik. Tapi seketika ia bisa berubah drastis ketika lingkungannya mengajak sebaliknya.
Itu namanya bukan pribadi yang kuat, kata Buya Hamka.
Tapi gimana kalau tempat yg saat ini kita berada tak seperti maunya kita?
Ketika kita sudah memilih dengan pertimbangan yg baik, ya sudah. Jalani saja. Ketika kita temukan kekurangan disitu, maklum *what? Maklum? 😁
Jangan lupa bahwa kekurangan itu keniscayaan. Disitulah kita ditempa membangun kesabaran, merakit keridhaan. Itulah yang namanya "This isn't comfort area". Yang seperti itulah membuat kita tumbuh.
Lalu bila punya teman-teman yg tak baik, yg memberi efek buruk?
Memang benar pertama kali kita harus mengoreksi diri. Naudzubillah bila kita membenci keburukan teman yg sebetulnya kita lakukan juga. Ketika kita sudah mau baik tapi teman sekitar tak mendukung, itu tugas kita. Barangkali dengan itulah Allah mengutus kita untuk memperbaiki mereka, kata Ust Salim. Tapi ketika keburukan mereka sudah keterlaluan dan tak bisa dicegah, barulah pindah.

Komentar
Posting Komentar