A Year
/Sebenernya udah ada niatan lama mau nulis lagi. Tapi baru kesampaian
*ceilah kek sibuk aja/
Setahun ini aku lebih sering disini. Tak banyak beranjak. Setidaknya begitulah yang nampak. Tapi aku tak berhenti berfikir. Ragaku disini, tapi jiwaku terbang. Merasakan menusuknya dingin di Belgia bulan Juli. Menatap kerlip eiffel dan gemerlapnya Paris. Tidur dibelai angin lembut Avonlea. Dan yang selalu dirindui, merasakan syahdunya masjidil haram. Terbang. Aku belajar dan beranjak. Hatiku tak berhenti bergejolak. Menyadari bahwa terlalu besar sayang-Nya.
Setahun, setelah aku memutuskan untuk tinggal. Berhenti sekolah sebentar (tapi berhenti sekolah, tak berarti berhenti berpikir kan?). Orang-orang kaget, dan mengira itu konyol. Aku sendiri kadang berpikir sama, itu konyol. Tapi bila orang lain yang mengatakan, itu tak enak kan?
Hanya setahun insyaallah. Barangkali akan tertutupi oleh kejadian-kejadian lain. Tapi inilah langkah-langkah kecil, yang bersambung jadi perjalanan panjang. Berat diawal, dan walaupun kini sedikit dilupakan aku akan kembali mengenang. Pedih yang jadi pupuk untukku tumbuh. Aku belajar tak menyalahkan dan belajar megambil pelajaran.
Bahwa hal-hal baik tak hanya yang dilakukan kebanyakan orang, tak hanya yang biasa, yang wajar, atau apalah. Kita punya pilihan dan boleh memilih. Bangunan kehidupan yang susah-susah kita bangun, jangan sampai diruntuh oleh tangan orang lain.
Setahun, setelah aku memutuskan untuk tinggal. Berhenti sekolah sebentar (tapi berhenti sekolah, tak berarti berhenti berpikir kan?). Orang-orang kaget, dan mengira itu konyol. Aku sendiri kadang berpikir sama, itu konyol. Tapi bila orang lain yang mengatakan, itu tak enak kan?
Hanya setahun insyaallah. Barangkali akan tertutupi oleh kejadian-kejadian lain. Tapi inilah langkah-langkah kecil, yang bersambung jadi perjalanan panjang. Berat diawal, dan walaupun kini sedikit dilupakan aku akan kembali mengenang. Pedih yang jadi pupuk untukku tumbuh. Aku belajar tak menyalahkan dan belajar megambil pelajaran.
Bahwa hal-hal baik tak hanya yang dilakukan kebanyakan orang, tak hanya yang biasa, yang wajar, atau apalah. Kita punya pilihan dan boleh memilih. Bangunan kehidupan yang susah-susah kita bangun, jangan sampai diruntuh oleh tangan orang lain.
Bahkan 'orang terpandang' sekalipun, bisa mengatakan hal-hal yang menciutkan. Bagiku tak peduli seberapa terpandang seseorang, orang besar adalah mereka yg mau membuka mata dan menghargai apa yang orang lain punya. Lisan adalah pedang.
Blak-blakan kadang tak masalah. Tapi terus terang dengan menciutkan hati orang itu menyakitkan. Kenapa menyalahkan telinga yang sensitif mendengarkan? Kenapa tak menyalahkan mulut yang bebas bercuitan?
Lakukan yang terbaik untukmu. Minta sama Allah. Do'a. Jangan sedih, Allah yang akan menenangkanmu. Jangan ciut, Allah akan memelukmu.
Yakin!
Kan ada Allah?
😚
Entah setinggi apapun sekolahnya, sebaik apapun prestasinya, itu tak bisa membuat orang jadi lebih paham tentang orang lain, tak menjudge orang. Seilmiah apapun. Secerdas apapun. Kita tetap hanya manusia. Yang nggak bakal ngerti hati orang, lebih-lebih tentang takdir.
Berhenti suka menciutkan. Suka menja-tuhkan.
Blak-blakan kadang tak masalah. Tapi terus terang dengan menciutkan hati orang itu menyakitkan. Kenapa menyalahkan telinga yang sensitif mendengarkan? Kenapa tak menyalahkan mulut yang bebas bercuitan?
Lakukan yang terbaik untukmu. Minta sama Allah. Do'a. Jangan sedih, Allah yang akan menenangkanmu. Jangan ciut, Allah akan memelukmu.
Yakin!
Kan ada Allah?
😚
Komentar
Posting Komentar