Lepas
Pagi ini, aku memutuskan untuk lupa. Pertamakalinya kutuliskan namamu dengan kesadaran penuh. Pelan.. Samar. Kubaca. Ah, ini serasa asing. Nama yg lima tahun ini kuhindari. Yang ketika akan kukatakan serasa buncah, ingin lari. Aku memang selalu menghindari.
Pertamakali aku mengerti, kau memang telah lama singgah. Tapi aku tak mau tahu.
Dikertas putih, kubaca lagi namamu. Tersenyum. Nama yg baik. Nama yg sering kudengar. Karena semua orang memang mengenal. Tap tidak buatku. Aku tak mengenalmu. Aku hancurkan namamu dikertas putih itu. Barangkali kau singgah sejak aku menyadari tampilanmu. Aku hanya mengenalmu dg wajahmu. Aku salah.
Kita tak pernah tahu. Apa yg terjadi esok. Semoga saja aku yg super awkward itu, bisa sungguhan menertawakanmu tanpa kaku. Memanggilmu tanpa kelu. Itu kabar baik. Saat murni kita hanya pernah saling tahu. Cuma itu.
Aku tak benci kenangan-kenanganmu, hanya tak ingin menanamnya. Agar tak tumbuh di sembarang tempat.
Hatiku telah begitu hebat bertahan. Diam saat namamu dilontarkan. Netral saat orang-orang mendebatkan. Tak fanatik. Tak benci, Saat orang beramai-ramai memusuhi *yg sejatinya mereka tak terima.
Kau tahu? Mereka mengakui reputasimu. Kala itu saat dimana-mana yg diungkit kamu, meributkan hidupmu. Aku diam. Hey, ngapain mereka sibuk sekali. Dan aku yakin di pelosok matanya, mereka menyimpan fotomu. Kau tak percaya? Atau sejak dulu kau sudah sadar? Ah, sungguh aku tak paham siapa kamu ini. Aku tertawa getir. Tak mau peduli. Setidak-nya aku masih pandai menahan diri. Dan saat itulah.. Aku sedikit berbangga. Hatiku telah begitu hebat beradaptasi :)
Maka, sesungguhnya ini lebih banyak ilusi. Lebih baik aku semakin ikhlas mengabdikan diri. Pada Maha Cinta. Yang cintaNya mengalir tanpa henti. Tiap hela, ada cinta disisi.
Lalu, kucintai diri. Yang telah dianugerahi hati. Yang kokoh menahan diri. Hadiah Rabbul Izzati. Agar tak silau dg ilusi.
×pict from pinterest
Komentar
Posting Komentar