Elfacas

      Sebuah perjalanan panjang buatku. Berbagai pelajaran yang membuat tiga tahun itu menjadi lebih panjang. Pun nama itu, prosesnya juga panjang.
       Awal kami mengenalnya adalah saat masih menjadi bocah ‘ingusan’. Mana tahu tentang organisasi. Bagi kami, yang penting bisa mandi, doyan makan, bertahan dari kantuk, that’s enough. Kami yang masih suka nangis, kangen rumah. Dipaksa untuk tahu tentang organisasi. Belajar dari kakak-kakak kelas yang terlihat kompak, kami mulai lebih dekat dengan teman-teman. Hingga beberapa bulan barulah membuat organisasi ini. Itupun dengan proses panjang. Karena kami harus mengajukan izin, menentukan nama, membuat lambang, hingga akhirnya diresmikan.
6 Mei, 2015
      Masa-masa itu agak berat, soalnya kita masih terlalu labil, egoismenya tinggi, ditambah temen-temen yang semakin berkurang. Tapi itu kali pertama kita menang lomba. Sebuah drama yang mengharu biru *eaak! Bikin nangis satu sekolah, juga lomba AMB.
6 mei, 2016
      Makan chicken, eh fried chicken
Pas inilah, kita udah baikan *wkwk. Udah nggak terlalu kewalahan sama kehidupan baru. Mulai bisa kompak, dan mulai tahu nakal… Katanya, kelas dua itu masa-masa nakal. Tapi nyatanya, kita nggak terlalu. Ya, nggak terlalu!
Tapi…
          Justeru kelas tigalah, kita mborong iqob *lol. Mantep dah! Mikir persiapan ujian plus mikir iqob :D Iya, ketawa aja. Dah berlalu juga. Udah gitu kita mulai pecah nggak karuan. Haduh.. pake acara sindir-sindiran segala..  Maklumlah, anak SMP! Hingga tiba saatnya pindah kamar lagi, biasanya kelas tiga dijadikan satu kamar, tapi ada rumor kalo kelas tiga disebar… deg degan banget dah! And then, ternyata kita satu kamar…. “Kairo. Bla.. bla.. bla..” whoo! berpelukannn. Belum lagi anaknya enak-enak.. yaudah deh, itu kamar paling mengesankan plus mengenaskan (soalnya, kamar ini yg selalu bikin masalah *lol atau mungkin selalu disalahin ya?)
          Mulai saat itu, hubungan kami membaik. Nggak cuma membaik, deket banget malahan. Dan makin rajin… *hhihi (sst.. biar jadi rahasia kita aja) Tak lupa berbagai cobaan mendera.. 
Yahh… gitulah ceritanya. Lupakan…
Berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan…
          Setelah berjuang setengah mati, akhirnya kita ujian.
          Pagi-pagi bangun, shalat shubuh, belajar, memburu gorengan, rayon sambil belajar, makan sambil belajar, cerita sambil belajar, tidur sambil belajar, laah intinya kita kemana-mana bawa buku, nggak peduli dibaca enggak! barulah kita mandi. Meskipun asrama isinya cuma kelas tiga, ramenya udah melebihi pasarlah! habis itu buru-buru berangkat, berkali-kali dijarosh.. lari-lari.. tapi gitupun nggak kapok, besoknya masih gitu lagi.
       Selesai ujian…
       Sebelumnya, aku mau cerita dikit. Angkatan kami, elfacas. Nggak diijinin study tour pas kelas dua, biasanya study tour emang diadakan di kelas dua. Karena kayaknya emang nggak bakal  study tour, yaudah kita pasrah. Sebenarnya masalah ini sederhana, tapi bagaimanapun ini soal kebersamaan, kapan kita bisa maen bareng, gitu katanya. Aku sendiri sih, nggak terlalu masalah, aku nggak terlalu minat ama hangout-hangoutan (introvert kali ya..) Setelah sekian lama, kita dapet kabar bakal ST habis ujian. Itu hasil dari perjuangan guru kami meminta izin, beliau yang ngurus semuanya. Alhamdulillah..
      Sampailah beberapa hari sebelum ujian, sebuah kabar yang sedikitpun tak pernah kami sangka. Bencana banjir terjadi di desa ustadz kami yang menelan cukup banyak korbannya, termasuk beliau dan dua anaknya yang sungguh masih kecil. Kami menangis teringat masa-masa bersama beliau, petuah yang selalu terkenang, pidatonya yang berapi-api… semuanya… setiap lorong gedung sekolah, ada kenangan bersamanya…
      Ah, kami tak kuasa bila harus bersuka cita setelah kepergiannya. Bagaimanapun, meski event ini beliau yang meminta, dan kami telah lama menantinya, tapi kami tak kuasa… Maka,
6 mei, 2017
        Kami tak mengadakan apa-apa, meski kami bisa saja merayakannya karena saat itu pula kami selesai ujian. Hanya berkumpul di masjid, memutuskan bila kita membatalkan event itu, menitikkan airmata, mengingat bahwa masa seperti itupun akan tiba pula pada kami, mengingat semangat beliau yang tak tergantikan.. kami sempurna menangis.
Kami rela, semoga nanti ada cara lebih baik untuk mempererat kebersamaan kami
Dan sebuah kalimat dari ustazah,
“Kalian… adalah angkatan yang istimewa…” Sambil menahan airmata, lalu kami menangis, memeluk beliau.
                                                                                 

 Ah kalian, Thanks a lot

Last be special wherever you are 





                                            

Komentar

Postingan Populer