A Cup..

Ingatan liarnya tak kuasa ditahan
Mengulang kisah beku,
    Semalam gerimis mengguyur. Lalu terang. Terpekur di pojok ruangan. Makin gelap. Makin dingin. Dan makin sunyi. Hanya suara kran dan teriakan khas. Bulir airmata kuat-kuat ditahan. Menggigit bibir. Lirih harapan, semoga ada penghangat. Sebuah senyum datang, menyapa sederhana. Dan itu terlalu mahal.
    Malam makin larut. Bersama keberanian yang juga mengkerut. Memaksa mata terpejam. Sebelum malam tambah me-nyayat. Lalu terlelap.
    Adzan nyaring membangunkan. Kali ini sempurna sendiri. Berhasil membuat makin sesak. Hingga lagi-lagi terlelap, untuk beberapa waktu. Siluet terang menyapa wajah kuyunya. Terbangun. Malah hatinya menggerutu, seharusnya tidur lebih lama lagi! Mata hitamnya menatap tajam. Barangkali mau menyalahkan dinding sekitar. Ia marah. Marah sekali. Tapi, wajah mungilnya tak pernah bisa marah. Lalu.. setelah sekian lama tertahan, ia menangis kecil. Hanya bisa menangis lirih, tapi itu merobek hati. 
      Nafasnya tersengal, rasanya sempiit sekali. 
     Tak sengaja tangannya menyentuh sebuah cup. Tangisnya terhenti. "Ada yang sengajakah meninggalkan ini, atau ter-tinggal?" Ah, diapun tak merasa haus. Biarlah.
     Derap kaki mendekat, segera ia usap pipinya. Tak boleh ada luka yang terbuka. Mungkin yang melihat akan ikut pula menangis. Sekali lagi seseorang itu datang, tersenyum. Bilang bahwa ia sengaja membuatkan.
     Splash! Ia tersenyum. Senyum paling indah. You were not alone

Tenggorkannya tak kering memang,
Tapi dengan air itu.. hatinya tersiram

Komentar

Postingan Populer